26 July 2015, a day to remember

Halo selamat pagiii… Hari Sabtu yang damai & selow, setelah dari kemarin-kemarin agak sibuk (dan males) buat nulis, hehehe… Lagi banyak kerjaan siihh…

Baiklah, yang mau diceritain kali ini adalah acara tanggal 26 Juli kemarin. Singkat cerita, aku dan pacar berencana untuk naik satu tingkat ke jenjang yang lebih serius tahun ini (baca: lamaran). Walaupun nikahnya masih nanti, tapi paling enggak udah ada progress lah. Aku mempropose rencana ini ke orang tua untuk aksi lanjut. Bapak-Ibu yang menerima info ini kemudian menghubungi simbah kakung (kakek) untuk mencarikan hari baik.

“Tapi kan semua hari itu baik mas?”

Yeah, bener. Semua hari memang baik. Tapi di antara hari-hari baik itu pasti ada yang terbaik kan? Sama kayak kamu mau beli sesuatu di Indomaret, ada banyak di mana-mana dan isinya sama, tapi kamu biasa milih satu tempat yang paling nyaman buat beli kan? Ini juga sama, intinya kan cari yang baik, selamat, biar aman dan lancar sampai akhir, gitu bro.

Baik, kembali ke topik. Rencana kami sih mau lamaran itu di bulan -ber -ber gitu, September, Oktober, dst. Tapi apa daya, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Kami hanya bisa berencana, Mbah Kakung yang menentukan. Aku dikabari kalo dapet harinya di tanggal 26 Juli, oke.

Tanggal yang dikasih pun cuma satu, ga ada alternatifnya. itu artinya aku yang baru kembali ke Jakarta tanggal 22 Juli (arus balik pasca lebaran), harus masuk kerja cuma 3 hari terus pulang lagi ke Klaten, behh nanggung hehehe. Satu lagi, tanggal 25 Juli itu Indonesia kedatangan tim bola AS Roma dalam acara yang bertajuk AS Roma Indonesia Day 2015. Poster-JakartaSudah ngefans sejak 15 tahun yang lalu (dari kelas 4 SD), giliran mau dateng ke Indo, malah ga bisa nonton. Duhh dekkk, ini semua demi kamuh hehehe. Besok kalo udah punya anak jadi ada cerita: “Nak, dulu bapak itu ngefans sama AS Roma dari waktu bapak masih SD. Setelah 15 tahun menunggu, akhirnya mereka datang ke Indonesia. Like a dream comes true, nak. Tapi waktu itu bapak lebih memilih ibumu uwuwuw~~” #eaak

Lanjut. setelah dapet info tanggal, segera aku cari tiket. Kebetulan 26 Juli itu adalah puncak arus balik tahun ini, jadi sudah bisa dipastikan harga tiketnya brooo mahal abiss brooo. Bisa buat PP Singapur 2x, tapi ya demi kamu, dek. Lautan api aja abang seberangi, apalagi cuma tiket mahal. #ihik

Oke, memasuki hari-H, aku bersama keluarga besar bertolak ke kediaman yang mulia tuan putri princess Ayu. Dalam tradisi Jawa, lamaran atau tembungan adalah tahap pertama untuk mempersiapkan pernikahan (kalo Bahasa Indonesia mungkin artinya tunangan), esensinya adalah kedua keluarga sepakat untuk besanan (entah artinya apa dalam Bahasa Indonesia, intinya terhubung dan menjadi keluarga lewat perjodohan anaknya). Esensi lain adalah memperkenalkan ke keluarga besar dan lingkungan sekitar, bahwa si Yogi itu adalah calonnya si Ayu, jadi kalo keliatan sliwar-sliwer di kampung tu udah ga dicurigai lagi.

Prosesi lamaran berlangsung dengan lancar. Setelah kedua keluarga sepakat besanan, dipakaikan penanda untuk kami berupa sepasang cincin yang telah kami beli sebelumnya. Pemasangan cincin dilakukan oleh kedua Ibu kami, Ayu oleh ibuku dan aku oleh ibunya. Berikut penampakannya:

Cincin lamaran, beli readystock di toko emas Kaliem, Blok M Square. Banyak yang nyamain tapi gamasalah, yang penting kami suka.
Cincin lamaran, bisa jadi sekaligus nikahan. Beli readystock di toko emas Kaliem, Blok M Square. Banyak yang nyamain tapi gamasalah, yang penting kami suka.

Selesai cincinan, acara dilanjut makan siang dan ramah-tamah. Sepanjang ramah tamah kadang diisi dengan foto-foto. Sayangnya foto yang bagus ada di kamera Mas Ari dan belum dikasih-kasih juga soft file-nya. Jadi ya pake yang ada di HP dulu aja ya. Foto-foto lain dengan pixel yang lebih besar akan disampaikan menyusul.Foto-foto lain dengan pixel yang lebih baik akan disampaikan menyusul.

Setelah makan siang, dilanjut dengan pamitan dan pulang ke rumah. Udah beresss acaranya. Kami harus segera packing dan kembali ke kota perantauan masing masing di sore harinya. Maklum, tidak ambil cuti. Nanti aja cutinya dipakai kalo bener-bener butuh.

Dannn… Akhirnya one step closer. Perjalanan tak selalu mulus, kadang terjal berlubang dan bergelombang, seperti sepanjang jalan menuju rumah doi. Namun kalo pelan-pelan dijalani pada akhirnya akan sampai juga.

Demikian sepenggal cerita yang bisa disampaikan, semoga dapat memberi manfaat. Doakan kami diberi kemudahan untuk tahap-tahap selanjutnya. Sampai sekarang sih belum dapet tanggal untuk hari-H nikahnya, mudah-mudahan awal tahun depan, biar insentif udah turun, persiapan juga bisa santai. Tapi ya siapa yang tahu, bisa aja jadi escalated quickly. Seperti yang tadi, kami hanya bisa berencana, Mbah Kakung yang menentukan.

Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s