PJKA

Sudah 2 tahun lebih tidak menulis 😀 😀 😀

Mungkin sibuk, lupa, malas, tidak tertarik, atau memang tidak berbakat menulis. Begitulah adanya.

Untuk itu, mari kita mulai lagi. Sekedar untuk membunuh waktu sambil mendengarkan keheningan malam bulan Mei.

Semenjak menikah pada tahun 2016, maka resmi sudah aku bergabung sebagai Tim PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad). Bersama dengan ratusan pekerja lain dengan nasib serupa di kantor, setiap Jumat dan Minggu kami dengan gagah bergentayangan di terminal, stasiun, bandara, dan hub-hub transportasi lainnya. Relasi perjalananku adalah Jakarta-Surabaya. Perjalanan Jakarta-Surabaya pp paling masuk akal untuk ditempuh dengan kereta atau pesawat terbang. Favoritku saat ini adalah kombinasi pesawat dan kereta. Jumat sore aku pulang ke Surabaya menggunakan pesawat, kemudian kembali ke Jakarta Minggu malam dengan kereta. Kenapa demikian? Karena opsi tersebut adalah yang paling efisien. Mari kita kupas satu per satu.

1
Ini gambar tiket kereta. Dikumpulin 15 biji nanti bisa ditukar tiket gratis

Tempat tinggal kami di Surabaya berada di daerah Perak, sekitar 15 menit dari Stasiun Surabaya Pasar Turi. Sangat nyaman pulang menggunakan kereta dibanding naik pesawat karena jaraknya yang dekat dari rumah. Menggunakan pesawat berarti perlu waktu ekstra untuk perjalanan dari bandara sejauh kurang lebih 35 km. Perjalanan menggunakan kereta membutuhkan waktu 9 s/d 10,5 jam. Semalaman jug-ijag-ijug di kereta akan membawaku sampai di Surabaya pada Sabtu pagi. Tidur dengan posisi duduk selama rentang waktu tersebut cukup membuat badan terasa lungkrah, apalagi jika dilakukan secara rutin meskipun di kereta eksekutif sekalipun. Setelahnya, penyelesaian pekerjaan di rumah jadi tidak optimal karena bawaannya mager sepanjang hari. Ujungnya adalah dimarahi istri. Terkait dengan kelas kereta, kebetulan memang tidak ada pilihan lain karena jadwal pemberangkatan kereta kelas di bawahnya tidak pas dengan jam pulang kerjaku. Jadi ya mau ga mau harus naik kereta eksekutif.

Awalnya dengan alasan finansial, opsi pulang menggunakan kereta adalah pilihan terbaik karena biaya perjalanan door to door-nya paling murah. Tapi belakangan ini, aku bisa mendapatkan cara untuk memesan tiket pesawat dengan biaya yang sangat murah. Bahkan jika digabung dengan transport bandara pun, harganya masih lebih murah dari kereta. Aku tidak akan membahas metode bagaimana mendapatkan tiket pesawat dengan harga murah tersebut, pokoknya rahasia. Dengan adanya extraordinary invention di bidang ekonomi tersebut, jarak 35 km dari Bandara Juanda ke rumah pun tak lagi jadi soal, toh overall masih lebih murah dari kereta, sampainya di Surabaya lebih cepat pula. Praktis opsi kereta langsung drop popularitasnya.

Btw naik pesawat Jumat sore bukannya tanpa masalah. Pesawat langgananku berangkat dari Bandara Halim. Walaupun jaraknya dekat, tapi lalu lintas ke Bandara Halim lebih macet daripada Bandara Cengkareng. Penggunaan mobil untuk ke Halim pada jam sibuk dijamin akan berujung penyesalan dan duka yang mendalam. Untuk mengatasi probematika tersebut, Tuhan menghadirkan ojek online, moda transportasi tercepat di Jakarta. Memang cepat sih, tidak sampai satu jam sudah sampai bandara, biayanya pun murah hanya berkisar tiga puluh ribu. Namun ada satu permasalahan fundamental dari penggunaan ojek. Ya, benar. Kehujanan.

Bermodalkan jas hujan ponco seharga sepuluh ribu, aku dibonceng abang ojek menembus hujan di jalanan Jakarta. Hasilnya bisa ditebak. Jas hujan sepuluh ribuan tidak mampu melindungi bagian paha ke bawah dari terpaan tirta alam. Alhasil aku sampai bandara dalam keadaan thili-thili. Sepatu? Jangan ditanya. Seperti kolam rasanya. Jadi walaupun terlihat mbois bisa naik pesawat, tapi aslinya kancilen kedinginan karena sepatu dan celana basah. Begitu. Seterusnya. Sampai Surabaya. Makin perih rasanya kalau pesawat delay. Rasanya seperti sudah jatuh, tertimpa tangga, tertusuk paku, jatuh lagi, kemudian tertimpa tangga lagi.

Sejauh ini aku belum menemukan transportasi paling efisien untuk perjalanan dari Juanda ke rumah. Aku masih setia menggunakan taksi resmi bandara, binaan koperasi AL. Kalau harga pesawatnya normal, ya terasa mahal. Berhubung pesawatnya dapat murah, ya cincai saja naik taksi. Dengan pesawat, aku bisa sampai di rumah Surabaya sekitar pukul 9 malam, lumayan.

Kita putar lebih cepat waktunya ke hari Minggu, saatnya kembali ke Jakarta. Aku bisa naik pesawat Minggu Malam atau Senin dini hari, tapi aku lebih suka kereta. Naik pesawat, bawaannya selalu terburu-buru dan harus spare waktu. Tidak nyaman rasanya kalau surya hari Minggu belum terbenam tapi sudah harus berkemas-kemas. Sayang banget kan. Belum puas main sama anak. Pun begitu pada Senin dini hari. Untuk bangun pukul setengah tiga pagi, sungguh berat, kamu ga akan kuat.

Sekali-dua kali, aku pernah mencoba naik pesawat Senin pagi. Hasilnya adalah seharian ngantuk berat di kantor dan bawaannya uring-uringan. Masih mending kalau yang kemudian dimarahi adalah korban yang tepat. Kan kasihan kalau yang kena marah adalah korban yang tidak berdosa, atau yang tidak tahu apa yang terjadi sehingga harus dimarahi.

Berdasarkan pertimbangan yang arif nan tampan pekertinya tersebut, kembali ke Jakarta naik kereta menjadi pilihan terbaik. Jadwalnya juga pas, pukul delapan malam. Berangkat dari rumah pukul setengah delapan pun tidak terlambat. Sampai Jakarta pukul lima pagi langsung meluncur kantor dan mandi di kantor. Ngantuk? Iya. Tapi masih lebih baik daripada naik pesawat.

Demikianlah kira-kira. Dalam tulisan berikutnya, mungkin akan dibahas lebih detail tentang suka-duka naik kereta dan pesawat, tentang penumpang dengan alarm hp yang super berisik, tentang dengkuran misterius seperti mesin jahit malam-malam, tentang para perenung-perenung pemuja kursi dekat jendela, tentang kenapa lebih suka dapat sebelahan cewek daripada cowok, dan lain-lain. Hingga saat ini, sudah 2 tahun rutin PJKA seminggu sekali. Syukurlah tidak ada halangan yang berarti. Kenapa harus seminggu sekali? kan bisa tiap 2 minggu, atau 1 bulan? Yaah, mumpung masih diberi cukup, masih diberi sehat, dan masih diberi dekat. Suatu hari ketika aku dipindah ke luar Jawa, mungkin tidak lagi seminggu sekali, dan ceritanya pasti akan berbeda. Tapi kenapa harus repot-repot dipikirkan dari sekarang? Bukankah semua sudah ada jalannya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s